PKKMB FAKULTAS KESEHATAN UNUSA
Prodi : D4 keselamatan dan kesehatan kerja
Fakultas : Kesehatan
RESUME PEMATERI PKKMB FKES UNUSA
MATERI 1
OLEH: Catur Wulandari S.ST., M.GIZI
JUDUL MATERI: Peran Mahasiswa Kesehatan dalam Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Resume Materi:
Tri Dharma Perguruan Tinggi
Mahasiswa memiliki tanggung jawab menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tri Dharma meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam pendidikan, mahasiswa membentuk karakter akademis dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Penelitian bertujuan menemukan solusi atas permasalahan nyata di masyarakat. Pengabdian dilakukan dengan mengaplikasikan ilmu demi kesejahteraan masyarakat.
Peran Mahasiswa dalam Penelitian
Penelitian adalah kegiatan ilmiah yang memerlukan pemikiran kritis dan sistematis. Mahasiswa berperan aktif dalam riset akademik di bidang kesehatan maupun sosial. Penelitian dapat menggunakan metode kualitatif maupun kuantitatif. Melalui penelitian, mahasiswa dapat menciptakan pengetahuan baru. Penelitian juga melatih keterampilan dalam menyusun proposal dan menganalisis data. Mahasiswa belajar menulis artikel ilmiah untuk jurnal dan seminar. Kolaborasi dengan dosen serta peneliti menjadi bagian penting dalam riset. Penelitian melatih komunikasi ilmiah melalui presentasi atau publikasi. Kegiatan riset dapat membuka jalan menjadi seorang peneliti profesional. Di Indonesia, lembaga seperti BRIN menjadi pusat riset nasional. Mahasiswa dapat memanfaatkan hibah penelitian sebagai dukungan dana. Hibah dapat bersumber dari internal kampus, misalnya LPPM UNUSA. Sumber eksternal bisa berasal dari Kemdikbudristek melalui program PKM atau MBKM. Penelitian juga menjadi kewajiban akademik seperti skripsi dan tugas akhir. Peran Mahasiswa dalam Pengabdian kepada MasyarakatSelain riset, mahasiswa juga wajib mengabdi kepada masyarakat. Kegiatan pengabdian dapat dilakukan melalui KKN, PKM, BEM, atau HIMA. Pengabdian menjadi sarana implementasi hasil penelitian di lapangan. Mahasiswa dapat memberikan edukasi kesehatan dan penyuluhan kepada warga. Kegiatan ini juga membantu menyelesaikan masalah nyata yang dihadapi masyarakat. Pengabdian meningkatkan empati, kepedulian sosial, dan kerja sama tim. Melalui pengabdian, mahasiswa belajar menerapkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.
Penutup
Mahasiswa tidak hanya dituntut belajar di kelas, tetapi juga aktif dalam riset dan pengabdian. Dengan riset, mahasiswa berkontribusi pada pengetahuan baru di bidang kesehatan. Dengan pengabdian, mahasiswa menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat. Tri Dharma Perguruan Tinggi menjadi pedoman mahasiswa untuk berkarya. Mahasiswa kesehatan UNUSA diharapkan menjadi generasi yang berilmu, kritis, dan peduli.
MATERI II
OLEH: Atik Qurrota A’Yunin A,S.K.M, M.KES
JUDUL MATERI: From Organization to Leadership: Personal Branding for the Next Generation
Resume Materi:
Personal Branding for The Next Generation
Generasi saya berbeda dengan generasi teman-teman, sehingga penting bagi kita untuk saling memahami. Apa yang saya bagikan mungkin tidak semuanya relevan, maka diskusi dan perbedaan pandangan justru akan memperkaya pemahaman kita bersama. Sebagai dosen di Prodi Kesehatan Masyarakat dengan spesialisasi promosi kesehatan, saya ingin mengajak teman-teman melihat hubungan antara organisasi, kepemimpinan, dan personal branding.
Organisasi merupakan proses merancang struktur formal, mengelompokkan, dan membagi tugas di antara anggota untuk mencapai tujuan bersama. Unsur dasar organisasi meliputi tujuan, pembagian tugas, kerja sama, dan tanggung jawab. Sementara itu, kepemimpinan adalah proses mengarahkan orang dan memengaruhi aktivitas untuk mencapai tujuan tertentu. Kepemimpinan bersifat interaktif dan melibatkan pemimpin, pihak yang dipimpin, serta situasi yang dihadapi.
Kepemimpinan bukan semata soal bakat, tetapi bisa dan harus dipelajari. Seorang pemimpin yang berpengaruh lebih mengandalkan kekuatan personal dibandingkan sekadar kekuatan jabatan. Kesuksesan sebagai pemimpin berawal dari kesuksesan sebagai pribadi. Maka, kita perlu belajar memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain.
Jalan menuju sukses lebih banyak ditentukan oleh soft skills dibandingkan hard skills. Soft skills meliputi kemampuan belajar, adaptasi, resiliensi, kepercayaan diri, modal spiritual, kepemimpinan, manajemen waktu, jaringan, serta sikap dan perilaku. Sementara itu, hard skills meliputi prestasi akademik, keberhasilan belajar-mengajar, keterampilan ICT, dan kemampuan bahasa asing.
Untuk membangun diri, kita harus mengenal potensi dengan memahami kelebihan dan kekurangan. Minat dan bakat dapat ditemukan melalui pengalaman baru yang menantang. Evaluasi diri secara berkala melalui refleksi dan masukan orang lain membantu kita bertumbuh. Percaya diri terbentuk dengan berani mencoba meski ada risiko gagal.
Kesalahan harus dipandang sebagai bagian dari proses belajar, bukan akhir dari segalanya. Setiap pencapaian kecil layak dirayakan agar menjadi motivasi. Lingkungan yang positif juga sangat penting untuk menjaga sikap dan mental kita. Dari sinilah personal branding menjadi kunci dalam perjalanan pengembangan diri.
Personal branding adalah cara menunjukkan diri secara autentik dan membangun kepercayaan. Media sosial bisa menjadi sarana efektif, mulai dari Instagram, LinkedIn, TikTok, Twitter/X, hingga YouTube. Setiap platform memiliki fungsi berbeda, namun semuanya mendukung kita untuk berbagi aktivitas, pengetahuan, pengalaman, maupun pencapaian.
Dalam membangun personal branding, identitas diri harus jelas dengan mengenali kekuatan, nilai, dan passion. Konsistensi menjadi kunci agar pesan yang disampaikan tidak berubah-ubah. Keaslian sangat penting karena autentisitas menumbuhkan kepercayaan. Memberikan nilai bagi orang lain melalui konten bermanfaat akan memperkuat citra diri kita.
Personal branding penting karena dapat meningkatkan kepercayaan diri. Selain itu, ia juga membangun kredibilitas dan membuka peluang karier baru. Personal branding membuat orang lain lebih percaya dan menjadikan kita problem solver yang bisa diandalkan. Tidak hanya itu, branding juga menjadi sarana mengekspresikan diri dengan jujur dan menjaga kesehatan mental.
Pada akhirnya, personal branding meningkatkan reputasi sekaligus memperluas jaringan yang berkualitas. Semakin baik citra diri yang kita bangun, semakin besar peluang kita untuk berhasil. Inilah alasan mengapa organisasi, kepemimpinan, dan personal branding saling terkait erat. Semua berawal dari diri kita sendiri, dan dari situlah lahir pemimpin masa depan.
MATERI III
OLEH: Erricha Darin Irbah, S.Gz
JUDUL MATERI: Future Ready Mindset
Resume Materi:
Future Ready Mindset berarti pola pikir yang siap menghadapi perubahan, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas.
Perubahan di dunia kesehatan terjadi dengan cepat dan nyata.
Rekam medis kini sudah berbasis digital, bukan lagi ditulis manual.
Edukasi kesehatan pun beralih, dari brosur ke TikTok, Instagram, dan platform online.
Diskusi ilmiah tidak harus tatap muka, cukup lewat Zoom.
Karena itu, mahasiswa perlu gesit, mau belajar cepat, bisa kerja tim, dan paham teknologi.
Mindset ini membuat kita tidak takut perubahan, melainkan sigap memanfaatkan peluang.
Mahasiswa yang belum punya mindset ini biasanya mudah kaget dengan metode belajar baru.
Mereka gampang mengeluh dan stres saat kasus pasien berbeda dari textbook.
Sebaliknya, mahasiswa dengan mindset ini melihat pembelajaran online sebagai jalan untuk menguasai teknologi.
Mereka akan mencari strategi kreatif saat berhadapan dengan pasien sulit.
Generasi tangguh ditandai dengan resiliensi, kemampuan bangkit dari kegagalan.
Ada pula adaptabilitas, yaitu kemampuan menyesuaikan diri dengan sistem atau teknologi baru.
Kreativitas diperlukan untuk melahirkan solusi inovatif, seperti telemedicine.
Lalu ada inovasi, yang menghadirkan ide-ide baru demi meningkatkan layanan kesehatan.
Mahasiswa yang bisa belajar secara hybrid lebih unggul dibanding yang terpaku pada satu metode saja.
Perubahan di dunia kesehatan memunculkan banyak tantangan baru.
Penyakit baru terus bermunculan, standar medis berubah, dan teknologi semakin maju.
Itu sebabnya tenaga kesehatan harus kompeten, fleksibel, sekaligus solutif.
Persaingan terjadi bukan hanya di lokal, tapi juga nasional hingga internasional.
Mahasiswa gizi kini dituntut bisa mengedukasi lewat media sosial.
Mahasiswa kesmas harus mampu merancang kampanye kesehatan digital.
Mahasiswa analis perlu menguasai alat laboratorium canggih dan hasil digital.
Mahasiswa K3 pun harus bisa membuat SOP aman serta melatih pekerja senior.
Tantangan zaman semakin kompleks dari hari ke hari.
Kini AI mulai berperan dalam membantu diagnosa penyakit.
Isu kesehatan masyarakat makin berat: stunting, obesitas, hingga burnout.
Arus hoaks kesehatan semakin deras.
Sementara itu, literasi digital di masyarakat masih rendah.
Untuk menghadapi itu semua, mahasiswa butuh growth mindset.
Kegagalan seharusnya dianggap sebagai proses belajar.
Apa yang belum bisa hari ini, bisa dipelajari di kemudian hari.
Belajar mandiri dapat dilakukan lewat webinar, thread edukatif, atau video YouTube.
Kesehatan mental juga perlu dijaga di tengah padatnya kuliah.
Journaling, olahraga, atau healing tipis-tipis bisa membantu.
Kolaborasi lintas jurusan memberikan pengalaman seperti dunia kerja nyata.
Kuasai pula Google Sheet, Canva, Notion, hingga AI tools.
Ikuti tren kesehatan di Twitter, TikTok, dan Google Scholar untuk memperkaya wawasan.
Dunia kesehatan memang penuh perubahan, ketidakpastian, dan persaingan.
Namun, di balik semua itu selalu ada peluang yang bisa dimanfaatkan.
Dengan Future Ready Mindset, mahasiswa akan lebih adaptif, tangguh, dan siap menghadapi masa depan
media sosial UNUSA
- Facebook : https://www.facebook.com/unusaofficialfb
- Instagram : https://www.instagram.com/unusa_official/
- Youtube : https://www.youtube.com/@unusa_official
- Twitter ( X ) : https://x.com/unusa_official?lang=en
- Tiktok :https://www.tiktok.com/@unusa_official
Fakultas kesehatan unusa = https://fkes.unusa.ac.id/
Lihat resume teman saya : Angga Adi Nugroho


Komentar
Posting Komentar